Kalau Sedekah susah, Hidup ndak Sedekah juga susah, lebih baik Hidup Bersedekah.
Kalau Sabar susah, Hidup ndak Sabar juga susah, lebih baik Hidup Bersabar.
Kalau Zakat susah, Hidup ndak Zakat juga susah, lebih baik Hidup Berzakat.
Kalau Nikah susah, Hidup ndak Nikah juga susah, lebih baik Hidup Nikah.
Kalau Gemuk susah, Hidup ndak Gemuk juga susah, lebih baik Hidup Gemuk. ;p
... dan lain sebagainya, silaken lanjutken.
Copied from Geronimo FM this evening.
Suto adalah seorang pengajar di salah satu perguruan tinggi swasta di sebuah kota pelajar. Di jalur arah kampus yang biasa dia lewati, dia melihat ada satu jalan yang sangat menarik perhatiannya. Setiap hari, dia berharap agar bisa lewat jalan itu. Sayang, jalan itu masih tertutup untuknya. Dia lihat nama jalan itu, namanya adalah "Jl. Sekolah di Jepang".
Suatu saat, dengan penuh harap dia bertanya kepada temannya, si Noyo, apakah Noyo mempunyai informasi tentang bagaimana cara agar dia bisa lewat jalan itu. Akan tetapi, betapa kecewanya ketika Noyo berkata, “Selain orang … Dilarang lewat … Apakah kamu biasa melakukan sesuatu yang bisa menunjukkan bahwa kamu adalah orang … ? “.
Suto bertanya, “Kenapa harus orang … yang diperbolehkan lewat? Apakah kepala desa atau ketua RW atau ketua RT-nya ya orang … juga?”. Noyo menjawab dengan enteng, “Ya bukan, tapi si pembuka pintu jalan itu yang orang …”.
Suto benar-benar bertanya dalam hatinya, “Harusnya jalan itu kan diperbolehkan untuk umum to,ya…? Harusnya bukan hanya untuk orang … saja.”
Noyo kembali berkata, “Kullu hizbin bimaa ladaihim farihuun”.
Karena terburu-buru mau ngajar, Suto tidak sempat membalas perkataan Noyo. Dia hanya membatin, “Bukankah itu untuk menggambarkan ketidakbaikan di akhir jaman? Kok dijadikan dalil?”
Lalu Suto hanya berkata di hatinya, "Kenapa menggantungkan nasib kita pada orang lain? Lebih baik bertanya kepada Allah dan mencari cara sendiri untuk bisa lewat jalan itu. Insya Allah suatu saat, Kepala Desa atau Ketua RW, atau Ketua RT-nya jalan itu akan mengijinkan aku lewat. Amin."
الصلوات الخمس , والجمعة ٳلى١لججمعة ، ورمضان ٳلى رمضان
مكفرة لما بينهن ، ٳذا اجتنبت الكبا ىٔر
Sholat yang lima (waktu), dari (sholat) jum’at satu ke jum’at (berikutnya), dari ramadhan ke ramadhan berikutnya, akan menghapuskan (dosa) di antara keduanya, selema mereka meninggalkan Al Kabaair (dosa besar) - HR Muslim dalam bab Thaharah
Bisa dibayangkan kan? Betapa mudahnya Allah SWT menghapuskan dosa kita. Cukup dengan sholat lima waktu sehari, kemudian sholat jum’at, dan menjalankan romadhon. Maka dosa-dosa kecil yang menyertai kita setiap hari akan terhapus, wiped completely. Dengan satu syarat, bukan termasuk dosa besar (membunuh, berzina, durhaka kepada orang tua, dan musyrik).
Kalau kita hitung-hitung kembali, “investasi” ibadah kita yang “sangat kecil” itu ternyata memberikan manfaat yang besar yang jauh dari perkiraan kita. Siapa sih di antara kita yang tidak pernah salah? Semuanya pasti pernah melakukan dosa ma’shiyat, yang menjadikan kita ternodai noktah hitam di hati kita. Akan tetapi, dengan keMaha Pengampunnya Dia Allah ‘azza wa jalla, semua itu dianggap tidak pernah terjadi.
Lalu, kenapa masih banyak di antara kita yang enggan dengan perkara-perkara ringan ini? Menjalankannya masih dengan setengah hati, tidak khusyu’, sementara balasan yang diberikan, sangat jauh luar biasa.
Kalau anda?
Melanjutkan tradisi saya sebelumnya di Ramadhan yang lalu, untuk mengisi blog ini dengan kajian hadits yang saya ambil dari kitab Minhajul Muslim, Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazaairi.
من فطر صا ىٔما كان له مثل أجر الصا ىٔم من غير أن ينقص من أجر الصا ىٔم شئا
Barang siapa memberikan buka puasa kepada orang yang berpuasa, maka baginya adalah mendapatkan pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala (orang yang berpuasa) sedikitpun (HR. Imam Ahmad)
Bagi sebagian orang (terutama mahasiswa kali …. he..he…) mencari buka puasa yang gratisan tentu menjadi pilihan, terutama bagi yang tidak punya duit malas keluar mencari buka puasa sambil ngabuburit yang tidak jelas itu. Itulah mengapa, mahasiswa, setidaknya saya tinggal di lingkungan kos-kosan mahasiswa karena rumah saya dekat UGM, lebih suka untuk mencari buka puasa di masjid.
Alasannya simple, gratis, dan kadang makanannya lumayan lah. Jadi mind set nya adalah, dimana saya mencari buka yang seenak-enaknya, abis itu gratis lagi.
Padahal, Rasulullah SAW telah memberikan sebuah sabdanya, terkait dengan amalan sodaqoh yang baik yang dilakukan saat bulan puasa, yakni memberikan buka kepada orang yang berpuasa. Jika mu’min memahami perkara ini dengan baik, tentu mereka akan berlomba-lomba untuk memeberikan buka puasa kepada saudaranya seiman. Memberikan buka tidak harus dengan makanan yang lezat nan mewah, bahkan sebutir kurma dan segelas air pun kan sudah cukup untuk berbuka puasa. Jika mind set kita sudah berubah dari golongan penerima menjadi golongan pemberi, kita bayangkan saja berapa banyak pahala yang dapat kita tangguk.
Tentu saja, memberikan ifthar tidak akan pernah menggugurkan kewajiban kita sendiri dalam berpuasa (mentang-mentang dapat pahala orang lain, kita trus jadi males puasa). Namun yang pasti, semangat berbagi, merasakan kegembiraan saudaranya yang sedang berbuka, akan tumbuh seiring dengan semakin sadarnya kita untuk memberikan ifthar. Saya masih ingat ketika kuliah S2, dimana saat ifthar adalah saat dimana saya masuih kuliah di kelas. Maklum, semua kuliah saya dilakukan malam hari. Saat itu, sesama kita yang muslim, saling berbagi, masing-masing membawa kurma, dan roti kecil seadanya, untuk kemudian saatwaktu berbuka tiba, kita saling memberikan makanan yang kita bawa. Tidak banyak, akan tetapi cukup untuk berbuka puasa.
jadi, masih mau cari ifthar gratisan? Kenapa tidak mulai dari sekarang, menggratiskan ifthar untuk kawan-kawan kita? pahalanya itu loh yang nggak kuku …
Setelah puas membaca komik yang disajikan di URL ini (http://www.google.com/googlebooks/chrome/index.html#), rasanya semakin terkagum-kagum dengan produk Google yang satu ini. Sebuah browser open source yang bernama Google Chrome.
Segera saja saya mendownload Google Chrome (yang pada saat tulisan ini ditulis, baru sekitar 4 jam yang lalu diunggah oleh Google) di alamat http://www.google.com/chrome.
Meski demikian, setidaknya hingga saat ini tidak ada modus offline untuk install Google chrome, karena begitu saya klik untuk download, dia langsung menginstall software kecil, dan kemudian mendownload Google Chrome dari sana (semoga kelak ada direct link download untuk browser ini).
Wuz..wuz..wuz… Yang jelas itu yang saya rasakan, membuka browsernya pun cepat (tidak seperti Firefox yang agak lama, setidaknya ketika diinstal banyak plugin seperti di tempat saya). Sangat cepat sekali terbuka halaman demi halaman, terutama yang intensif menggunakan Java Script, yang biasanya saya rasakan sedikit lambat. Dengan Google Chrome, semuanya menjadi “relatif” lebih cepat.
Satu lagi, begitu saya ketik andri se, Google Suggestionnya langsung muncul, he..he.. Nama saya muncul di sana …
(dasar narsis).
Jadi, tunggu apa lagi? Segera coba google chrome, dan rasakan bedanya.